Kamis, 23 Juli 2015

Tentang Dakwah Unsurnya



DAKWAH ILALLAH
Secara etimologi, dakwah berasal dari kata da’a-yad’u-da’watan yang berarti menyeru, memanggil, mengajak, atau mengundang. Yang dimaksud adalah Allah bisa menyeru manusia ke Darussalam (Surga) dan bisa juga berarti mengajak kepada kejahatan jika memenuhi ajakan yang kurang benar (1)
Dakwah secara terminologi, memiliki unsur penting yang harus dipenuhi, yaitu :
a.    Dakwah maknanya harus khusus
Aktivitas mengajak atau menyeru pada kebaikan pada umumnya, meliputi
1)   Dakwahnya mengajak orang masuk Islam bagi yang belum Muslim.
2)   Dakwahnya memberikan taujih dan nasihat kepada sesama kaum mukminin.
3)   Dakwah dapat meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan syariat Islam.
4)   Dakwah berfungsi untuk mengingatkan janji dan ancaman bagi yang berbuat baik dan buruk.
Dakwah bisa dilakukan secara lisan, tulisan, dan tindakan. Rasullah saw adalah sosok seorang da’I yang lebih mengedepankan aspek tindakan (keteladanan) dalam sikap dan perbuatan. Akhlak dakwah yang dimiliki oleh beliau sangat menawan.
Berdakawah melalui lisan, merupakan cara dasar untuk bisa berdakwah. Hampir semua da’I akan menggunakan metode secara lisan, karena metode ini merupakan basis atau dasar dari aktivitas dakwah.Metode secara lisan juga telah melahirkan para da’I yang ulung dalam retorika dan kemampuan dalam memerankan logikanya.
Namun sebagian dari pada da’I, telah melirik media tulisan sebagai sarana untuk berdakwah. Misalnya majalah, buletin, buku, surat kabar, dan tabloid sekarang semuanya bisa isi dengan dakwah. Begitu memasyarakat, membudaya, dan begitu mudah semua lapisan masyarakat dalam mendapatkan seruan dakwah dan tausiyah melalui berbagai media tulisan tersebut.
b.    Objek dakwah atau mad’u
Dakwah ditujukan kepada seluruh umat manusia di semua tempat dan waktu.Walaupun orang yang kita tujukan sudah beriman ataupun belum beriman.Sifat dakwah dapat kita gambarkan dengan air hujan yang turun ke daratan manapun di muka bumi ini.Demikian pula dengan dakwah, yang harus ada dimana-mana hingga di sumber peradaban Islam, lembaga, pesantren, dan lingkungan yang Islami.Dakwah harus tumbuh subur seperti sebuah hujan yang tak kenal tempat maupun waktu.
Dalam beberapa waktu yang lalu ada beberapa kejadian seperti di pesantren ada seorang yang melahirkan anaknya dikamar mandi akibat hubungan gelapnya, seorang Kiai yang terbiasa dengan perbuatan tidak terpuji, dan adapula yang menjadi anggota BSF (Badan Sensor Film) yang setiap saat melototi tontonan tidak pantas, kiai yang tidak lagi sholat, dan sejuta kisah tragis ditempat-tempat yang seharusnya menjadi sumber munculnya nilai moralitas dan etika Islam. Dengan kejadian tersebut mengakibatkan bahwa dakwah telah mati disumber ilmu Islam ini.
Ibaratnya sebuah samudera yang selalu menerima hujan, namun lembaga-lembaga dan tempat Islami harus pula disuburkan dengan dakwah.Bahkan sebuah Masjid jika tidak diisi dengan dakwah didalamnya, maka akan dipenuhi dengan bid’ah dan kemungkaran yang secara diametral bertentangan dengan Islami.


c.    Ridha Allah
Ilallah yang berarti kepada Allah.Ungkapan dari kata ini adalah bahwa orientasi dakwah adalah ridha Allah Swt. tidak kepada selainnya.Dengan demikian, menyeru orang kepada da’inya sendiri atau kepada sebuah kelompok tertentu tidak termasuk ke dalam pengertian dakwah yang syar’i.
Di zaman yang sudah modern ini, ditandai pula dengan semarak dakwah di mana-mana.Banyak yang ingin menjadi seorang da’I, seperti buruh, mahasiswa, pejabat dan artis juga ingin dan berlomba agar menjadi seorang da’i.Di satu sisi, fenomena ini menjadi indikasi semaraknya syiar Islam di mana-mana.
Namun di sisi yang lain, bermunculan seorang da’I palsu yang membawa kekhawatiran tersendiri kepada masyarakat.Mereka yang dianggap alim dan pintar oleh masyarakat awam, kemudian membenarkan Islam yang tidak bersesuaian dengan Al-Quran dan Sunah hingga akhirnya menyesatkan umat Islam.
Sebutan bagi seorang da’I, bagi merekan yang disebut belakangan adalah terbatas pada makna lughawi. Sebab pada hakikatnya, da’I hanyalah para penyeru manusia kepada Allah saja, yang dalam seruannya mendasarkan pada dalil-dalil yang nyata, Al-Quran dan Sunah, bukan karena tuntutan profesi maupun karir, melainkan dengan mencari Ridha Allah.
d.   Hikmah dengan bersikap bijak
Memberikan sebuah nasihat atau pelajaran kepada masyarakat secara bijak, metodis, dan sejalan dengan manhaj Nabawiyah, sehingga mereka dapat menerima dakwah berdasarkan kesadaran dan ilmu, tidak karena terpaksa dan kebodohan.Sebaik-baik sebuah nasihat adalah Al-Quran dan Sunah yang menjadi penjelasnya.
e.    Target utama dakwah
Bertujuan agar masyarakat memiliki ketegasan dalam menolak thagut dan beriman kepada Allah sehingga mereka terbebas dari belenggu jahiliyah dan mendapat cahaya Islam.Jadi, sebuah dakwah harus dilakukan secara terus-menerus secara kontinu dan terpogram. Di saat thagut-thagut bermunculan di setiap tempat dan zaman maka dakwah adalah lawan ampuhnya yang akan mengikis habis hingga ke akar-akarnya.
Lia Aminuddin dengan Salamullah-Nya memang bukan orang yang pertama kali menghentakkan jantung umat Islam, khususnya di Indonesia.Namun sebelumnya, telah banyak aliran atau sekelompok orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kaum Muslimin dan berdakwah kepada Masyarakat.Bahkan sesudahnya pun, zaman tak kunjung henti mencatat gerakan dakwah yang mewarnai rona kehidupan umat Islam.
Itulah rona dunia dakwah. Jika kaum Muslimin tidak memahami karakteristik dari dakwah ilallah secara baik, maka bisa saja mereka akan terkecoh terus-menerus oleh propaganda-propaganda yang menjerumuskan mereka sendiri. Jadi, untuk lebih memperjelas makna dakwah wah ilallah, selain masyarakat harus memahami definisnya, masyarakat juga perlu melihat bagaimana karakteristik sebuah dakwah.(2)

Sumber : 

  1. Abdul Wasit, Filsafat Dakwah, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 44-45.
  2. Irfan Abdul Azhim, Rahasia Dakwah, (Solo: Bina Insani, 2007),  hlm.1-40.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar