Senin, 27 Juli 2015

Karya-Karya Plato



Semua karya Plato ditulis olehnya dalam kurun waktu selama 50 tahun yang kebanyakan hasil karyanya itu berbentuk dialog. Jumlah karyanya kira-kira sekitar 34 buah dalam bentuk surat dan puisi. Namun sangat sukar untuk menentukan kapan penulisan karya-karya tersebut di tulis dan diterbitkan. Kebanyakan karya-karyanya memiliki pokok pendirian ide yang berbeda-beda, mengakibatkan masalah kapan penulisan karya tersebut dituliskan. Tetapi beberapa ahli menyatakan itu merupakan kemajuan dalam pemikiran karya-karya milik Plato. Kemajuan pemikiran yang berbasis pada pendirian ide yang berbeda-beda, para ahli tidak mengherankan jika memperhatikan waktu yang diperlukan Plato untuk mengasah pikiran dan menuliskannya ke karya-karyanya.
Walaupun terdapat segi perbedaan dalam penentuan urutannya, namun terdapat kesamaan didalamnya. Dari tulisan-tulisan Plato, kita dapat mengikuti bagaimana perkembangan pikirannya sendiri dari kecil sederhana, menjadi besar istimewa. Karyanya dibagi menjadi 4 periode, yaitu:
1.         Pada masa muda
Ketika socrates masih hidup sampai beberapa saat setelah itu dia meninggal karena dihukum mati. Buku-bukunya yang ditulis :
a)    Apoogia Sokratus (Apology)
b)   Politeia (Republic Vol.I)
c)    Protagoras
d)   Kriton
e)    Charmides
f)    Euthypron
2.         Pada masa transisi
Ketika Plato tinggal sementara di Megara atau disebut dengan masa Megara. Dialog yang ditulis :
a)    Cratylos (Cratylus
b)   Gorgias
c)    Hippias
3.         Pada masa kematangannya
Tulisan yang mashyur pada saat itu ditulis dan menembus sampai sekarang. Tulisan tersebut antara lain :
a)    Phaedon (Phaedo)
b)   Symposion (Symposium)
c)    Phaedros (Phaedrus)
d)   Politiea (Republic vol. II-X)
e)    Erastai (Lovers)
4.         Pada masa tuanya
Karya terakhir dari Plato disebut sebagai karya hari tua. Karya-karyanya itu seperti :
a)    Paramenides
b)   Sophistes (Sophist)
c)    Politikos (Statesman)
d)   Timaeos (Timeaus)
e)    Nomoi (Laws) [1]


[1] Muhammad Sholikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, (Yogyakarta: Narasi, 2008) hlm.125-128.

Jumat, 24 Juli 2015

Profil Plato



Ketika dilahirkan pada tahun 428 SM, Plato diberi nama Aristokles dan lahir di kota Athena. Plato juga seorang jago gulat terkenal yang kita kenal baik hingga sekarang itu julukannya. Ayahnya bernama Ariston, yang merupakan keturunan Kodrus, raja terakhir Athena. Dan ibunya bernama Solon, seorang keturunan peletak dasar hukum Athena yang legendaris.[1]
Plato merupakan putra Ariston dan Perictione sekitar tahun 429/428 SM di kota Athena dan wafat di kota yang samatahun 347 SM di saat dia berusia 80 Tahun. Ia berasal dari keluarga yang memegang peran penting dalam politik di kota Athena. Ariston, dalam kepercayaan masyarakat Yunani waktu itu, disebut sebagai penjelmaan Dewa Poseidon di bumi melalui Kodrus. Sementara Solon megantarkan kepada keluarga pembuat undang-undang pertama Yunani.
Namun, perkembangan politik dimasanya tidak memberikan kesempatan padanya untuk mengikuti jalan hidup yang dia inginkan dan ia lahir saat 3 tahun setelah perang besar Pelioponesia antara Athena dan Sparta. Jadi, posisi Plato pada masanya menjadi kuat, karena salah satu faktornya adalah kepercayaan bangsa Yunani Kuno yang menganggap bahwa Plato adalah bagian dari keturunan dewa. Kalau dilihat dari bentuk kepercayaan yang lain, ada beberapa bangsa lain yang memilkinya.  Misalnya, masyarakat Jawa yang meyakini bahwa jabatan raja atau presiden sebagai bagian dari Tuhan.[2]


[1]Paul Strathern, 90 Menit bersama Plato, (Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama, 2001) hlm. 7.
[2]Muhammad Sholikhin, Filsafat dan Metafisika dalam Islam, (Yogyakarta: Narasi, 2008) hlm.120.

Kamis, 23 Juli 2015

Tentang Dakwah Unsurnya



DAKWAH ILALLAH
Secara etimologi, dakwah berasal dari kata da’a-yad’u-da’watan yang berarti menyeru, memanggil, mengajak, atau mengundang. Yang dimaksud adalah Allah bisa menyeru manusia ke Darussalam (Surga) dan bisa juga berarti mengajak kepada kejahatan jika memenuhi ajakan yang kurang benar (1)
Dakwah secara terminologi, memiliki unsur penting yang harus dipenuhi, yaitu :
a.    Dakwah maknanya harus khusus
Aktivitas mengajak atau menyeru pada kebaikan pada umumnya, meliputi
1)   Dakwahnya mengajak orang masuk Islam bagi yang belum Muslim.
2)   Dakwahnya memberikan taujih dan nasihat kepada sesama kaum mukminin.
3)   Dakwah dapat meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan syariat Islam.
4)   Dakwah berfungsi untuk mengingatkan janji dan ancaman bagi yang berbuat baik dan buruk.
Dakwah bisa dilakukan secara lisan, tulisan, dan tindakan. Rasullah saw adalah sosok seorang da’I yang lebih mengedepankan aspek tindakan (keteladanan) dalam sikap dan perbuatan. Akhlak dakwah yang dimiliki oleh beliau sangat menawan.
Berdakawah melalui lisan, merupakan cara dasar untuk bisa berdakwah. Hampir semua da’I akan menggunakan metode secara lisan, karena metode ini merupakan basis atau dasar dari aktivitas dakwah.Metode secara lisan juga telah melahirkan para da’I yang ulung dalam retorika dan kemampuan dalam memerankan logikanya.
Namun sebagian dari pada da’I, telah melirik media tulisan sebagai sarana untuk berdakwah. Misalnya majalah, buletin, buku, surat kabar, dan tabloid sekarang semuanya bisa isi dengan dakwah. Begitu memasyarakat, membudaya, dan begitu mudah semua lapisan masyarakat dalam mendapatkan seruan dakwah dan tausiyah melalui berbagai media tulisan tersebut.
b.    Objek dakwah atau mad’u
Dakwah ditujukan kepada seluruh umat manusia di semua tempat dan waktu.Walaupun orang yang kita tujukan sudah beriman ataupun belum beriman.Sifat dakwah dapat kita gambarkan dengan air hujan yang turun ke daratan manapun di muka bumi ini.Demikian pula dengan dakwah, yang harus ada dimana-mana hingga di sumber peradaban Islam, lembaga, pesantren, dan lingkungan yang Islami.Dakwah harus tumbuh subur seperti sebuah hujan yang tak kenal tempat maupun waktu.
Dalam beberapa waktu yang lalu ada beberapa kejadian seperti di pesantren ada seorang yang melahirkan anaknya dikamar mandi akibat hubungan gelapnya, seorang Kiai yang terbiasa dengan perbuatan tidak terpuji, dan adapula yang menjadi anggota BSF (Badan Sensor Film) yang setiap saat melototi tontonan tidak pantas, kiai yang tidak lagi sholat, dan sejuta kisah tragis ditempat-tempat yang seharusnya menjadi sumber munculnya nilai moralitas dan etika Islam. Dengan kejadian tersebut mengakibatkan bahwa dakwah telah mati disumber ilmu Islam ini.
Ibaratnya sebuah samudera yang selalu menerima hujan, namun lembaga-lembaga dan tempat Islami harus pula disuburkan dengan dakwah.Bahkan sebuah Masjid jika tidak diisi dengan dakwah didalamnya, maka akan dipenuhi dengan bid’ah dan kemungkaran yang secara diametral bertentangan dengan Islami.


c.    Ridha Allah
Ilallah yang berarti kepada Allah.Ungkapan dari kata ini adalah bahwa orientasi dakwah adalah ridha Allah Swt. tidak kepada selainnya.Dengan demikian, menyeru orang kepada da’inya sendiri atau kepada sebuah kelompok tertentu tidak termasuk ke dalam pengertian dakwah yang syar’i.
Di zaman yang sudah modern ini, ditandai pula dengan semarak dakwah di mana-mana.Banyak yang ingin menjadi seorang da’I, seperti buruh, mahasiswa, pejabat dan artis juga ingin dan berlomba agar menjadi seorang da’i.Di satu sisi, fenomena ini menjadi indikasi semaraknya syiar Islam di mana-mana.
Namun di sisi yang lain, bermunculan seorang da’I palsu yang membawa kekhawatiran tersendiri kepada masyarakat.Mereka yang dianggap alim dan pintar oleh masyarakat awam, kemudian membenarkan Islam yang tidak bersesuaian dengan Al-Quran dan Sunah hingga akhirnya menyesatkan umat Islam.
Sebutan bagi seorang da’I, bagi merekan yang disebut belakangan adalah terbatas pada makna lughawi. Sebab pada hakikatnya, da’I hanyalah para penyeru manusia kepada Allah saja, yang dalam seruannya mendasarkan pada dalil-dalil yang nyata, Al-Quran dan Sunah, bukan karena tuntutan profesi maupun karir, melainkan dengan mencari Ridha Allah.
d.   Hikmah dengan bersikap bijak
Memberikan sebuah nasihat atau pelajaran kepada masyarakat secara bijak, metodis, dan sejalan dengan manhaj Nabawiyah, sehingga mereka dapat menerima dakwah berdasarkan kesadaran dan ilmu, tidak karena terpaksa dan kebodohan.Sebaik-baik sebuah nasihat adalah Al-Quran dan Sunah yang menjadi penjelasnya.
e.    Target utama dakwah
Bertujuan agar masyarakat memiliki ketegasan dalam menolak thagut dan beriman kepada Allah sehingga mereka terbebas dari belenggu jahiliyah dan mendapat cahaya Islam.Jadi, sebuah dakwah harus dilakukan secara terus-menerus secara kontinu dan terpogram. Di saat thagut-thagut bermunculan di setiap tempat dan zaman maka dakwah adalah lawan ampuhnya yang akan mengikis habis hingga ke akar-akarnya.
Lia Aminuddin dengan Salamullah-Nya memang bukan orang yang pertama kali menghentakkan jantung umat Islam, khususnya di Indonesia.Namun sebelumnya, telah banyak aliran atau sekelompok orang yang mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari kaum Muslimin dan berdakwah kepada Masyarakat.Bahkan sesudahnya pun, zaman tak kunjung henti mencatat gerakan dakwah yang mewarnai rona kehidupan umat Islam.
Itulah rona dunia dakwah. Jika kaum Muslimin tidak memahami karakteristik dari dakwah ilallah secara baik, maka bisa saja mereka akan terkecoh terus-menerus oleh propaganda-propaganda yang menjerumuskan mereka sendiri. Jadi, untuk lebih memperjelas makna dakwah wah ilallah, selain masyarakat harus memahami definisnya, masyarakat juga perlu melihat bagaimana karakteristik sebuah dakwah.(2)

Sumber : 

  1. Abdul Wasit, Filsafat Dakwah, (Jakarta:PT. Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 44-45.
  2. Irfan Abdul Azhim, Rahasia Dakwah, (Solo: Bina Insani, 2007),  hlm.1-40.